Minggu, 08 Mei 2016

Memandang kota Daeng senja hari

Tidak tau mengapa, sore ini begitu bersemangat tuk pergi hangout ke pantai losari, atau gara-gara hati lagi galau (hehehe). Setelah menempuh perjalanan sekitar 20 menit dari rumah, sampai juga akhirnya d pantai losari.
Duduk sendiri memandang mentari yang lagi senja, melihat keramaian kota daeng yang begitu cepat berubah. Dengan semangat makassar menuju kota dunia, saya rasa sangatlah wajar jika wajah kota Makassar sudah penuh dengan gedung-gedung pencakar langit, yang seakan berlomba menjadi yang paling perkasa ditanah daeng.
Sejenak terlintas memory 20an tahun yang lalu, ketika itu saat saya masih kecil, saya diajak oleh sepupu saya ke pantai losari subuh hari kebetulan hari itu ada kegiatan di tempat ia bekerja yang kali itu sebagai manajer hotel. Melihat keteduhan ombak dipantai losari saat ini sangat menyenangkan, gerombolan anak-anak muda yang dengan gembiranya berenang di pantai losari. Masih bisa terlihat burung-burung camar dengan bebasnya mencari makan di pesisir losari, dan yang uniknya masih terlihat ramai perahu bercadik dengan layar hitam di pesisir losari. Ketenangan yang akan senantiasa dirindukan oleh orang-orang yang lahir dizaman tersebut.
Sekarang pantai losari telah berubah, dengan penataan disana-sini, memberikan wajah baru di kota makassar. Membangun kota makassar tidak mesti dengan gedung-gedung yang mewah dan tinggi menurut saya. Karena jika yang diinginkan adalah masuknya wisatawan asing ke kota ini, maka yang perlu ditingkatkan adalah sebuah suasana kota yang berbudaya. Karena wisman datang kesini untuk melihat kebudyaan orang-orang makassar yang terkenal dengan siri'. Sebuah hasil budaya yang sangat bagus menurut saya. Tetapi terkadang disalah artikan oleh kebanyakan orang.
Makassar dengan sejuta impian dan kenangan akan menjadi sebuah fenomena bagi orang-orang makassar.

Sudut kota daeng,
08052016
Misel udin

0 komentar:

Posting Komentar